Rabu, 10 September 2014

UCAPAN TERBAIK



Aktivitas dakwah  dan pembinaan para aktivis pengembannya bertujuan untuk meningkatkan sekaligus menguatkan kepribadian islam (syakhsiyah islamiyah) yakni  membentuk dan menguatkan pola pikir dan pola jiwa islami para aktivisnya. Yang dikehendaki dari tastqif/ pembinaan adalah bukan sekedar menjadikannya orang berilmu, tetapi sekaligus mengamalkan ilmu yang didapat dari proses pembinaannya. Terkait pentingnya mengamalkan ilmu Abu Darda’ RA pernah berkata,” Engkau tidak akan menjadi orang berilmu hingga engkau belajar. Engkau tidak bisa dikatakan menguasai  suatu ilmu hingga engkau mengamalkan ilmu itu.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah bahkan berkata,” orang berilmu pada dasarnya bodoh hingga dia mengamalkan ilmunya. Bila dia mengamalkan ilmunya , barulah layak dia disebut berilmu.” ( ‘Awa’iq ath Thalab, hal 17-18)
Selain mengamalkan ilmu, para aktivis dakwah dituntut untuk berdakwah atau menyampaikan ilmunya. Dakwah adalah aktivitas yang amat mulia.Karena itu kemuliaan aktivis dakwah terletak pada aktivitas dakwahnya bukan pada status/sebutannya. Dengan kata lain kemuliaan aktivis dakwah terletak pada lisan atau ucapannya yang senantiasa mengusung nilai-nilai dakwah. Allah SWT sendiri menyatakan demikian (yang artinya), “ Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan dengan orang yang berdakwah  (mengajak) kepada agama Allah (TQS Fushshilat:33)
Artinya tidak ada seorangpun yang ucapannya lebih baik - sebagus apapun gaya bicara dan retorikanya- dibandingkan dengan ucapan orang yang berdakwah atau mengajak manusia untuk mentauhidkan  sekaligus menaati Allah SWT ( Al –Jazairi, Aysar at-Tafasir, III/480)
Tentu kemuliaan itu hanya milik aktivis dakwah yang menyatukan antara ucapan dengan perbuatannya. Kemuliaan itu tidak untuk pengemban dakwah yang kemana-mana berdakwah tapi perilakunya tidak sesuai dengan apa yang ia dakwahkan seperti: mengajak orang lain untuk selalu terikat dengan syariah namun dia sendiri melanggar syariah, mengajari orang lain agar ikhlas namun dia sendiri sering riya, menyuruh orang lain agar berkorban untuk Islam namun dia sendiri pengorbanannya amat minimalis, mengingatkan orang lain agar bertaqarrub kepada Allah namun dia sendiri makin jauh dari Allah dst.  Pengemban dakwah seperti ini tentu jauh dari kemuliaan dan kebaikan. Dia malah akan mendapatkan kemurkaan dari Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya ( yang artinya),” Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Sungguh Allah amat membenci kalian yang mengucapkan apa yang tidak kalian lakukan ( TQS Ash Shaf: 2-3).
Salah satu pendapat menyatakan, sababun nuzul ayat ini terkait dengan peristiwa sebagaimana yang dituturkan oleh Abu Talhah dari Ibnu Abbas ra, bahwa suatu saat sekelompok orang dari kalangan kaum muslimin menyatakan ( sebelum jihad diwajibkan), “ kami sangat menyukai jika Allah SWT menunjukkan kepada kami amalan yang paling Dia cintai( sehingga kami bisa melakukan amal tersebut).” Namun tatkala turun ayat tentang kewajiban jihad, mereka malah tidak suka ( enggan melakukannya): Ibnul jauzi, Zad al-Masir III/426; Al-Mawardi , An-nakt wa al-uyun, IV/ 267).
Sikap itulah yang amat dibenci Allah  SWT karena itu menurut Imam Al Jazairi ayat di atas bermakna ,” pernyataan kalian tentang sesuatu yang tidak kalian lakukan benar-benar telah menjadikan Allah amat membenci kalian.” ( Al-Jazairi Aysar at Tafasir, IV/260).
Tentu ayat inipun sesungguhnya merupakan peringatan dan ancaman kepada orang yang mengklaim sebagai pengemban dakwah tetapi tidak sungguh-sungguh berdakwah atau menjadikan dakwah hanya sekedar aktivitas sampingan ( bandingkan dengan pernyataan Imam Al jazairi)
Dakwah diantaranya merupakan salah satu syarat diantara tiga syarat yang mesti ada pada seseorang yang ingin meraih derajat sebagai orang yang paling baik lisannya sebgaimana firman Allah dalam QS fushshilat 33 di atas. Allah SWT sendiri melanjutkan firman-Nya  ( yang artinya):” ... yang beramal shalih dan berkata bahwa aku adalah bagian dari kaum muslim” (TQS Fushshilat :33).
Dengan demikian selain dakwah, syarat kemuliaan dan kebaikan ucapan pengemban dakwah adalah beramal shalih yakni menjalankan semua kewajiban dan menjauhi semua larangan/ keharaman. Juga bangga dengan Islam sebagai bentuk memuliakan islam dengan berani meyatakan diri sebagai muslim. Dalam kondisi demikian tidak ada seorangpun yang lebih mulia dan lebih baik lisan atau ucapannya daripada orang yang memenuhi ketiga kriteria di atas. Di antara yang masuk dalam golongan ini, yang paling utama adalah para Rasul ( Al Jazairi, ibid hlm III/480).
Dengan demikian seseorang yang mengklaim pengemban dakwah, tetapi tidak benar-benar menjalankan  kewajiban dakwah tidaklah termasuk yang dimuliakan oleh Allah SWT berdasarkan ayat ini. Demikian pula pengemban dakwah yang tidak beramal salih berupa menjalankan semua kewajiban lain seperti birrul walidayn, menuntut ilmu, mencari nafkah yang halal,atau masih menjalankan keharaman seperti masih terlibat dalam transaksi ribawi, menjalankan akad-akad muamalah batil, menjalin hubungan tidak islami dengan lawan jenis  dsb.
Tidak dimuliakan Allah pula, pengemban dakwah yang tidak berani dengan bangga menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, termasuk pengemban dakwah yang enggan menyampaikan kebenaran yang dia yakini, baik karena tidak percaya diri, malas-malasan atau tidak berani menghadapi resiko dakwah meski hanya cibiran dan dijauhi masyarakat.
Alhasil seorang dikatakan memiliki lisan  atau ucapan terbaik di mata Allah SWT jika memiliki tiga syarat: (1) berdakwah (2)  beramal shalih (3) berani menyatakan diri sebagai muslim. Hanya dengan itulah , dakwah benar benar akan berpengaruh terhadap objek dakwah. Jika dakwah tidak ada pengaruhnya terhadap pihak pihak yang kita dakwahi, sepantasnya kita khawatir jangan jangan kita belum memenuhi ketiga syarat di atas.
Wamaa taufiqi illa bilL ah (Arif B. Iskandar).

Kamis, 14 Agustus 2014

Rapuhnya Ikatan Kepentingan

Manusia, makluk sosial yang tidak bisa menyelesaikan permasalahan hidupnya sendirian. Urusan hidupnya begitu kompleks. Manusia tidak merasa cukup dengan terpenuhi kebutuhan jasmaninya saja. ia memiliki naluri dan akal yang membuat hidupnya dinamis. Seringkali untuk mencapai kepentingannya, manusia berkelompok atau berikatan.  maka kita mengenal ada ikatan kesukuan, ikatan kebangsaan, ikatan kemaslahatan/ kepentingan, ikatan kerohanian, dan ikatan ideologi ( ikatan mabda').

Ikatan kesukuan biasanya terjadi pada masyarakat yang pemikirannya sempit. Ini mirip ikatan kekeluargaan dan hanya sedikit lebih luas. Basanya ikatan ini muncul karena pada dasarnya manusia ingin mempertahankan diri , yang kemudian muncul dalam dirinya keinginan berkuasa. maka jika kesadarannya meningkat dan pemikirannya berkembang, bertambah luaslah wilayah kekuasaannya hingga ingin keluarga dan kerabatnya berkuasa. selanjutnya jika pemikirannya terus berkembang dan makin luas kekuasaanya, ia ingin sukunya menjadi penguasa di suatu negeri. kalau bisa bahkan menguasai bangsa-bangsa yang lain.  Ikatan ini lemah karena pada dasarnya didalam intern keluarga tersebut terjadi persaingan antar anggota keluarga untuk menjadi pemimpin, demikian berlanjut dengan persaingan antar keluarga. Demikian seterusnya keinginan untuk berkuasa itu menjadi sifat ta'asshub ( fanatisme golongan).

Ikatan kebangsaan muncul pada saat pola fikir manusia mengalami kemerosotan. Naluri mempertahankan diri yang ada pada sekelompok manusia yang hidup bersama dalam suatu wilayah ini, biasanya tumbuh ketika ada ancaman dari pihak asing  untuk mempertahankan eksistensi mereka dan jika ancaman dirasa sudah hilang, maka berkuranglah kekuatan ikatannya.

Ada lagi jenis ikatan yang biasanya digunakan oleh sebagian orang untuk mencapai tujuan, yaitu ikatan kemaslahatan atau ikatan kepentingan. Karena dasarnya adalah kepentingan, maka sifat ikatan kemaslahatan ini sangat temporal. Peluang terjadinya tawar menawar ( transaksional) juga tinggi karena yang ingin diwujudkan adalah kemaslahatan bersama. Maka pastinya, eksistensi ikatan ini akan hilang pada saat tujuan kemaslahatan telah tercapai.  Para pendukunganya membubarkan diri dan tentu ikatan ini sangat berbahaya. istilahnya, " tidak ada kawan dan musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi". Jika hari ini kita sama kepentingannya, ya kita join tapi jika sudah tidak ada keperluan untuk bersama, kita bercerai.

Ikatan kerohanian yang tidak memiliki aturan hidup seringkali muncul dalam masyarakat kita. Kegiatannya hanya bersifat spiritual saja. Parsial dan tidak berkaitan dengan kemaslahatan sehari-hari. Ikatan seperti ini juga tidak bisa eksis karena ketika manusia menyelesaikan urusan hidupnya ikatan ini tidak bisa dipakai.

Ikatan yang paling kuat dalam mengikat manusia sesungguhnya adalah ikatan ideologis.Ikatan ini berasal dari sebuah pemikiran dasar yang mengakar dalam diri manusia.Pemikiran dasar tersebut menghasilkan aturan hidup sehingga  bisa memecahkan problematika hidup manusia secara keseluruhan. Pandangan dan jalan hidup manusia diatur oleh ideologi ini. Maka biasanya ikatan ini kuat, dan pengikutnya militan.mereka memiliki prinsip yang radikal dan sanggup berkorban untuk menerapkan prinsip dan ideologinya, bahkan menyebarluaskannya ke seluruh masyarakat. Sebutlah ideologi kapitalisme yang berasal dari paradigma sekulerisme. Di gagas oleh para intelektual sejak masa Renaissance  sebagai protes terhadap kalangan gerejawan yang memaksakan dogma gereja ke dalam kancah kehidupan. Prinsip jalan tengah/kompromi menjadi prinsip utama dalam sekulerisasi. Demokrasi dengan kebebasan di dalamnya menjadi pilar pilar pembangunnya.Ideologi ini kuat mencengkeram kehidupan dunia saat ini. siapapun yang ada dalam masyarakat baik setuju atau tidak akan tergulung dalam sistem yang dipegang kuat oleh negara adidaya saat ini.tak peduli apapun suku, agama, ras dan bangsanya. Ideologi selamanya bersifat ofensif, dia senantiasa menjadikan pemegangnya bergolak dan mendidih jiwanya untuk terus mengembannya. Jika bukan dipegang oleh negara, sesungguhnya ia tidak pernah mati dalam jiwa manusia pengembannya.

Itulah mengapa  islam ideologi sangat ditakuti oleh para penegak kapitalisme. Karena ia mengancam eksistensinya sekalipun masih dipendam dalam jiwa jiwa. Upaya untuk memisahkan islam dari ideologinya senantiasa dilakukan dengan berbagai cara, negosiasi maupun pemaksaan. Ideologi kapitalisme dinegosiasikan dengan ide demokrasi dan dipaksakan dengan imperialisme dan devide et impera. mari kita lihat kenapa di Asia masyarakat damai saja, karena demokrasi masih dipakai sebagai jalan untuk mengatur hidup manusia. dan mengapa di asia tengah dan negara arab senantiasa bergolak? karena di sana demokrasi tidak bisa menjadi alat untuk menegosiasi masyrakat. Imperialisme adalah jalannya. Ideologi tetaplah ideologi. Jika masayarakat itu seperti air dalam sebuah periuk, ideologi ibarat api yang memanaskan tungkunya.Ia akan memanaskan air itu hingga mendidik dan mengangkat tutup periuk itu, menguapkan air didalamnya. Ia akan mengikat dan membangkitkan manusia. Manusia yang memiliki pemikiran politik yang bisa memahaminya.


Kamis, 24 Juli 2014

The Muslim View Of Productivity



Although Islam molds every aspect of our life, many people wrongly assume that Islam only deals with either religious or social affairs. However, Allah says, “Say: Verily, my salah (prayer), my sacrifice, my living and my dying are for Allah, the Lord of the ‘Alamin (all that exists).” [Q. 6:162]

Admitting that life is divided into two parts – this life and that of the hereafter, with the hereafter being eternal, compels us to think about the link between both. Being productive in this life yet neglecting the everlasting life to come is a miserable failure. A wise person should seek to live a productive life that leads to acquiring as much as possible in the second life. Allah says, “Everyone shall taste death. And only on the Day of Resurrection shall you be paid your wages in full. Whoever is removed away from the Fire and admitted to Paradise, he indeed is successful. The life of this world is only the enjoyment of deception (a deceiving thing).” [Q. 3:185]

This is a key difference between the Muslim notion of productivity and a non-Islamic one. Non-Islamic ideas do not have a clear and sound view about what happens after death, and it fails to address the link between both thus leaving an emptiness in one’s life that can only be filled by an attachment to the Creator.
The Muslim is required to be extremely productive but must also channel this productivity in the context of what is most beneficial for the afterlife. Muslims should be selective in which activities they engage in – anything that does not benefit the second life should be seen as subsidiary. This view helps productive Muslims feel that every second counts, “So whosoever does good equal to the weight of an atom (or a small ant), shall see it. And whosoever does evil equal to the weight of an atom (or a small ant), shall see it.” [Q. 99:7-8]

This approach necessitates that a person be attached to his Lord and the hereafter, contemplating Allah and thinking of what pleases Him most. It provides human beings with a peace of mind knowing that there is a link between this life and the hereafter.

Some might say that this is a selfish viewpoint, but in reality, we should not want to please others whilst ourselves dwelling endlessly in the fire of hell where there is no help. However, if we help others with the correct intention, such as pleasing the Lord, then that

This is conditional that the person act to please his Lord and not anyone else. Allah says, “And they were commanded not, but that they should worship Allah, and worship none but Him Alone (abstaining from ascribing partners to Him), and perform salah and give zakat – and that is the right religion.” [Q. 98:5]

The Muslim view of productivity is extremely developed with the focus being the extent of profit a person can make for the afterlife, and as such, even the most disabled person can be very productive despite his disability. “Actions are judged by intention and every single person gets what he intends.” [Bukhari] The non-Muslim view of productivity focuses merely on output, and in some circumstances, on the action itself. It compares between the input and the output where both aspects are based on materialism. The Islamic focus is on the second life with the input large enough to include a wide range of activities that maximize heavenly rewards.
help secures the most interest for a believer in regards to one’s final destination.

Minggu, 20 Juli 2014

Secularism And Moral Values



Moral values, such as honesty, trustworthiness, justice and chastity, are originally innate values which Allah planted in the hearts of mankind; then He sent His messengers with a system of life in accord with this innate disposition to affirm it.
“So set your face toward the religion, as one by nature upright; the instinctive (religion) which Allah has created in mankind. There is no altering (the laws) of Allah’s creation. That is the right religion but most people do not know.” [Surat Ar-Rum:30].
A believer adheres to these moral values because his nature, fortified by faith, induces him to do so, and because the religion he believes in commands him with them and promises him a reward for them in the Hereafter. Secularism, on the other hand, even in its less virulent form that satisfies itself with removingreligion from political life, rejecting it and the innate values as a basis for legislation, undermines the two foundations for moral values in the hearts of mankind. As for secularism in its extreme atheistic form, it completely demolishes these two foundations and replaces them with human whims, either the whims of a few rulers in dictatorial systems or the whims of the majority in democratic systems.

“Have you seen the one who has taken his own desire as his god? Would you then be a guardian over him?” [Al-Furqan:43].
Since whims and desires are by their nature constantly changing, the values and behaviors based on them are also mutable. What is considered today to be a crime, punishable by law with the severest of penalties, and causes its practitioners to be deprived of certain rights granted to others, becomes permissible tomorrow, or even praiseworthy, and the one who objects to it becomes “politically incorrect.” This shift from one point of view to its opposite, as a result of society’s estrangement from innate religious values, is a frequent occurrence. However ignorant a traditional society may be, it, or many of its members, will maintain some innate values; but the further a society penetrates into secularism, the fewer such individuals will become, and the more marginal their influence will be, until the society collectively rebels against those same innate religious values it used to uphold. There may be another reason for some traditional Jahili cultures to maintain innate religious values: they might appeal to their desires, or they represent their heritage and do not conflict with their desires. “And when they are called to Allah and His Messenger to judge between them, Lo! a party of them refuse and turn away. But if the right is with them they come to Him willingly.” [Al-Nur: 48-49].

Their relationship with truth is similar to Satan’s, as described by the Prophet (sallallahu alayhe wa sallam) to Abu Hurairah, whom Satan had advised to recite Ayat al-Kursi when going to bed: “He told you the truth, even though he is an inveterate liar.” Contemporary Western, secular societies are the clearest examples of the shifting, self-contradictory nature of jahili civilization. From one angle it views culture and the values it rests upon as a relative, variable phenomenon. However, from another angle it characterizes some values as human values, views their violation as shocking, and punishes their violators severely.

The sources of this problem are two fundamental principles which democratic secular societies rely upon. The first is majority rule as a standard for right and wrong in speech and behavior; the second is theprinciple of individual freedom. These two principles will necessarily conflict with each other if they are not subordinated to another principle that will judge between them. Secularism, by its very nature, rejects religion, and in its Western form it does not consider fitrah (innate values) a criterion for what is beneficial or harmful for humanity. It has no alternative but to make these two principles an absolute standard for what behavior is permissible and appropriate, and what isn’t.

The contradiction and conflict between these two principles is showing itself plainly in some of the current hot issues in these societies. Those who advocate the acceptance of homosexuality and the granting to avowed homosexuals equal rights and opportunities in every aspect of life, including military service, base their argument on the principle ofindividual rights. They see no one as having the right to concern themselves with what they call their “sexual orientation.”

The same argument is made by supporters of abortion. You frequently hear them say incredulously, “How can I be prohibited from freedom of choice in my own affairs and over my own body? What right do legal authorities have to involve themselves in such personal matters?” The only argument their opponents can muster is that this behavior contradicts the values held by the majority of the population.

Even though the basis for many people’s opposition to abortion is moral or religious, they can’t come out and say so openly, nor can they employ religious or moral arguments, since secular society finds neither of them acceptable. If we accept that there is no basis for values except individual or majority opinion, and that it is therefore possible for all values to change from oneera to another, and from one society to another, this means there is no connection between values and what will benefit or harm people in their material and spiritual lives, which in turn means that all values are equality valid and it doesn’t matter which values a given society accepts or rejects. However, this means that all behavior considered abhorrent by secular societies today, such as sexual molestation of children and rape of women for which it has serious penalties, are considered repulsive only because of current inclination, which might change tomorrow, so certain serious crimes may become acceptable, based on the principle of individual freedom.

The reason a secularist is confused when posed with certain questions is that his repugnance toward such crimes is not really based on these two principles, which have become the only accepted bases for argument in societies dominated by secularism; the real reason for it is the remnants of the moral feelings he still possesses from the original nature with which Allah endowed him, and which linger on in spite of his secularism.
Perhaps the confusion of the secularist would increase if he were asked for what reason he had given such precedence to these democratic values, until he made them the standard by which all other values and behaviors are judged. If he says his reverence for them is based merely on current personal preference and inclination, or on cultural chauvinism, he will have no reply to one who opposes him on the basis of his contradictory personal preferences, or because the norms of his society differ from those of the other. The flimsy foundation of values in secular societies makes them liable to turn at any time against all the values they currently hold dear. It also paves the way for them to descend to their practices of the occupation and colonization of weaker nations. There is nothing to make them refrain from doing so, once one of them stands up and announces that there is a nationalist benefit to be gained by it and a large number of fellow citizens believe him.

His policy proposal becomes official policy, based on the standard of majority approval. It is, however, as you can see, an approval based on nothing more than greed. This has been the justification for every transgression in history. In fact it is the basis on which any animal attacks another. Personal freedom and majority rule are not, then, the fundamental values on which secular culture is based. That is because freedom entails choice, but it is not the criterion for that choice.

I mean that whoever is given the freedom to choose needs a standard that he can use as the criterion for hischoice. Likewise, majority opinion is not itself the standard; it is merely the result of many individual choices made on the basis of some standard. So what is the basis for the choices of a free individual and a free society in the secular system? It is, without the slightest doubt, those whims and desires which have taken the place of the real deity.
(Manar As-Sabeel V4, No. 3/4)

Kamis, 17 Juli 2014

DAKWAH? DAPAT APA DARI DAKWAH?




                Hidup itu dinamis, suka dan duka silih berganti, Setepat apapun kita melangkah, akan selalu ada hambatan dan ujian. Karena hidup memang kampung ujian, maka kita selalu dihadapkan pada pilihan pilihan yang menghasilkan konsekwensi didalamnya.

Pilihan seorang mukmin adalah menjadi pengemban dakwah. Dakwah adalah poros hidupnya. Semua kegiatan diluar dakwah harus bersenyawa dengan dakwahnya. Pekerjaannya membawa pesan dakwah. Karena sejatinya tujuan hidupnya adalah mengagungkan Allah, beribadah di jalan Allah. Tidak ada dikotomi dalam hidupnya, antara mencari dunia dengan mengejar akhirat. Dunia adalah sarana sedangkan akhirat adalah tujuan. Itu semua merupakan konsekwensi logis dari keimanannya kepada Allah, Dzat yang maha Pencipta sekaligus Maha Pengatur. Kebebasan dalam hidupnya dibatasi aturan Allah. Dan dia yakin bahwa aturan Allah pasti membawa kemaslahatan bagi dirinya, keluarganya dan masyarakat. 

Tidak sedikitpun ia ragu dengan hukum Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak mungkin keliru dengan aturan yang dibuat- Nya. Mengatur segenap jagadraya saja mudah bagi-Nya, apalagi mengatur makhluk lemah seperti manusia. Allah mengatur dengan detil terperinci hingga hal hal paling kecil. Bahkan hingga nisbah nisbah titik didih dan titik beku pada benda benda di muka bumi ini. 

Ketika kita sibuk dengan teori generatio spontanea, kita lupa bahwa alam ini ada bukan hanya karena kumpulan materi yang saling mempengaruhi satu sama lain, tapi sesungguhnya ada suatu pola yang menyebabkan berlakunya setiap kondisi. Siapa yang menentukan bahwa titik didih air harus 100 C, kromosom sel kelamin harus 23 hingga untuk menjadi seorang manusia harus ada perkawinan yang menghasilkan sel somatis 46 kromosom? Siapa yang menentukan bilangan fibonacci pada jumlah kuntum kuntum bunga? Apakah materi itu atau sesuatu di luar materi? Seharusnya kita menyadari ada sebuah kekuatan unvisible diluar itu, Sang Pencipta. 

Dan, kenapa ketika kita menyadari itu, kita lupa bahwa kita adalah makhluk jua yang tak bisa keluar dari posisi  kita sebagai materi yang juga harus tunduk pada hukum alam? Hukum pencipta? Hukum hukum pencipta ini sesungguhnya sudah kita pegang setiap hari, sudah kita baca hingga khatam bahkan hafal, namun isinya seringkali kita ragukan, kita redefinisi dengan akal kita yang terbatas ini. Kita ikut ikutan memakai tafsir hermeneutika yang biasa dipakai oleh pemegang bible. Padahal telah jelas bahwa bible memang tidak dijamin keasliannya. Tafsir hermeneutika dipakai sebagai tongkat bagi si buta dalam menafsirkan isi bible yang sudah tercemari. 

Sedangkan al-Qur’an sudah jelas akan terjaga keasliannya hingga hari kiamat. Tidak ada keraguan di dalamnya. Kita lebih mengidolakan Jurgen Habermas, jacquest derrida daripada Imam ibn katsir, Ibn Abbas atau Jalalain. Kita lebih memilih tafsir ala orientalis dengan berfikir bahwa mereka lebih modern dan bisa menjawab tantangan jaman. Saya bertanya ketika ada kalimat “kutiba ‘alaikumushshiyaam..” kita tunduk. Tapi ketika terpaut hanya beberapa ayat terdapat kalimat “kutiba ‘alaikumul qishash...” kita kemudian menginterpretasi berdasarkan kemauan akal kita. Padahal sesungguhnya itu adalah bentuk ketidak beranian kita melaksanakan syariah-Nya. Lantas kita bertanya, macam apa keimanan kita ini? Beriman sebagian dan ragu pada sebagiannya. Kita berpegang pada kaidah ushul yang keliru, bahwa “tidak ditolak perubahan hukum karena perubahan tempat dan waktu”. Lantas kita interpretasi bahwa itu artinya kita bisa merubah hukum-hukum syariah yang tidak sesuai dengan keinginan. Kita juga berpegang pada kaidah syara,” urf /adat  adalah  hukum syara’” padahal ‘urf yang dimaksud bukan sembarang ‘urf, namun adalah ‘urf yang sudah terbentuk dalam tradisi masyarakat islam yang baik.

S   Sungguh, menjadi muslim itu pilihan, namun menjadi mukmin itu adalah karunia paling berharga. Dengan iman kita mengenal dakwah.  Dakwah adalah pendidikan kedewasaan terbaik. Dakwah itu keteladanan, sebab, siapa yang akan percaya pada pengemban dakwah yang ucapannya tidak sejalan dengan sikap lakunya?
Dakwah itu belajar kesabaran, jika ukuran dakwah itu perasaan Rasulullah SAW tidak akan mengajak Abu Thalib menjadi muslim hingga akhir hidup beliau.Dakwah itu menuntut ilmu, manusia akan mendengar pembicaraan yang memiliki hujjah yang kuat. Ia perlu ilmu.Dakwah itu belajar negosiasi, Rasulselalu mencontohkan tentang bagaimana beliau bernegosiasi dengan kabilah kabilh yang datang ke Ka'bah pada musim haji untuk mengajak mereka kepada agama Allah dengan jalan damai dan pemikiran. Dakwah itu manajemen stres, Bagaimana tidak, dakwah bukan perkara yang sepi dari tantangan dan tentangan. Jika bukan karena Allah niscaya sudah banyak pengembang dakwah yang pensiun dan memilih jalur aman.
6        
      Dakwah itu kecerdasan spiritual, dia tidak bisa dilakukan oleh orang orang yang jauh dari Allah. Dia hanya bisa dikerjakan orang-orang ikhlas dan amanah.Dakwah itu kecerdasan ekonomi, betapa banyak pengemban dakwah yang harus mampu menysihkan hartanya untu membiayai dakwah ditengah keterbatasannya dalam ekonomi atau begitu banyak pengemban dakwah yang memakskan diri menjadi orang kaya karena tuntutan dakwah yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dakwah itu leadership, pengemban dakwah akan selalu menjadi magnet yang daya tariknya besar terhadap lingkungan sekitar. kalimatnya ditaati dan perbuatannya jadi tolok ukur. Dia menjadi leader secara informal bagi masyarakat. 

        Dakwah itu kepedulian, seorang pengemban dakwah adlah orang yang peduli dengan keadaan masyarakat. Ia berusaha mencari solusi untuk kebaikan masyarakat tanpa meminta balasan.   Dakwah itu cinta. seprang pengemban dakwah akan menyeru manusia ke jalan keselamatan, mengingatkan yang lupa, mendoakannya di keheningan malam di saat manusia lelap dalam mimpinya, ia memohon kepada Allah agar umat ini diselamatkan. ia amat mencintai ummat.     Dakwah itu ilmu komunikasi, menyampaikan hukum Allah perlu kemmpuan komunikasi yang baik, pengemban dakwah mesti menguasai teknik komunikasi agar tidak terjadi perselisihan paham yang justru memecah belah umat. Teramat banyak pelajaran berharga dalam dakwah. Pelajaran yang tak ternilai bagi kemaslahatan hidup manusia. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dakwah adalah darah dalam tubuh umat. Nyawa dalam jiwa umat.
       
    Maka Jika ukuran DAKWAH itu PERASAAN, Rasulullah SAW sudah berhenti dakwah ketika bertubi tubinya ujian. Jika ukuran DAKWAH itu SEMANGAT, Rasulullah SAW akan berhenti dakwah ketika Khadijah dan Abu Thalib wafat. Jika ukuran DAKWAH itu KESIBUKAN, Abdurrahman Bin Auf berhenti dakwah karena sibuk berdagang. Jika ukuran DAKWAH itu KENYAMANAN, Mus'ab bin Umair tidak akan meninggalkan kemewahan dunianya untuk berjuang.

2   Jadi, DAKWAH itu BELAJAR. Belajar SABAR menghadapi ujian. Belajar MANAJEMEN STRESS ketika ditempa tekanan. Belajar LEADERSHIP ketika mengharuskan kita membagi perhatian.  Belajar ilmu POLITIK ketika kita meraih kepercayaan untuk memimpin masyarakat mengejawantahkan aturan Islam. Masihkah kita sekarang bertanya, buat apa dakwah, dapat apa dari dakwah??